Di era digital saat ini, para akademisi dituntut untuk tidak hanya berkutat di menara gading, tetapi juga turun langsung menyapa masyarakat. Hal inilah yang mendorong Hotpascaman Simbolon, dosen Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, untuk aktif menjadi kreator konten di media sosial. Pada Senin, 3 Maret 2025, Pasca Simbolon berbagi pengalaman dan cerita inspiratif dalam sebuah acara diskusi ilmiah di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU). Kedatangannya disambut antusias oleh mahasiswa dan rekan dosen yang ingin mengetahui secara langsung bagaimana seorang psikolog membangun personal branding di platform digital.
Pria yang akrab disapa Pasca ini mengelola akun TikTok @psikolog.pasca yang kini telah memiliki lebih dari 80 ribu pengikut. Di hadapan para peserta kelas mata kuliah psikologi dan media, ia memaparkan bahwa perjalanannya sebagai kreator tidak selalu mulus. “Menjadi psikolog di ruang digital itu tantangannya besar. Kita harus memastikan informasi psikologi yang disampaikan itu consumable (mudah dicerna), tetapi tanpa jatuh ke dalam narasi yang ekstrem atau sensasional,” ujarnya di tengah acara .
Menurutnya, platform seperti TikTok sering kali mendorong kreator untuk menyajikan informasi secara bombastis agar viral. Namun, sebagai seorang yang berlatar belakang akademisi dan psikolog, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga narasi tetap berimbang dan didukung oleh sains yang tepat. Ia mencontohkan, banyak konten kesehatan mental di media sosial yang hanya menonjolkan sisi dramatis atau bahkan memberikan “diagnosis” instan kepada pengguna. Hal ini tentu berbahaya dan tidak sesuai dengan kode etik psikologi.
“Suka dukanya terasa sekali. Senangnya, kita bisa menjangkau ribuan anak muda yang mungkin tidak membaca jurnal, tapi butuh pemahaman psikologi untuk kehidupan sehari-hari. Mereka jadi kenal istilah-istilah seperti silent treatment dengan istilah yang lebih ilmiah atau bahkan belajar boundaries (batasan yang sehat) dari konten kita,” jelas dosen yang dikenal produktif menulis riset ini dan menghasilkan buku “Memahami psikologi” ini.
“Dukanya, kita harus kuat menghadapi komentar miring dan tekanan algoritma. Godaan untuk membuat konten ‘clickbait’ itu besar, tapi saya selalu ingat bahwa kredibilitas adalah segalanya,” tambahnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif ini juga menyoroti bagaimana konten psikoedukasi dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan di kampus dan realitas yang dihadapi masyarakat umum. Para mahasiswa USU tampak antusias bertanya tentang strategi memulai konten, bagaimana mengemas teori-teori berat menjadi video pendek yang menarik, serta cara menghadapi cyberbullying.
Kehadiran Hotpascaman Simbolon di Psikologi USU membuktikan bahwa dosen milenial dan kekinian dapat berperan ganda: sebagai akademisi yang kredibel di kampus dan sebagai edukator publik yang relevan di lanskap digital . Dengan pendekatan yang tepat, konten psikologi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang menyehatkan mental bangsa.



