Dosen dan Mahasiswa Psikologi HKBP Nommensen Beri Penyuluhan Komunikasi Asertif pada Jemaat GPDI

Dosen dan Mahasiswa Psikologi HKBP Nommensen Beri Penyuluhan Komunikasi Asertif pada Jemaat GPDI Pemenang Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan menggelar pengabdian masyarakat bagi jemaat Gereja GPDI Pemenang dengan tema “Komunikasi Asertif Keluarga”. Kegiatan ini menghadirkan dosen sekaligus praktisi psikologi, Hotpascaman, M.Psi, Psikolog, sebagai ketua tim dan narasumber utama dalam seminar bertajuk “Komunikasi Tanpa Drama: Mendengarkan dan Dipahami antara Orang Tua dan Anak”. Seminar ini juga melibatkan mahasiswa GMKI Komisariat Universitas HKBP Nommensen Medan.

Hotpascaman menekankan bahwa konflik keluarga sering muncul karena kebiasaan menggunakan You statement (“Kamu selalu…”) yang cenderung menyalahkan, serta kurangnya kemampuan mendengarkan secara aktif. Ia mengajarkan teknik komunikasi asertif seperti penggunaan I statement (“Saya merasa…”) serta pentingnya orang tua belajar menjadi “detektif pendengar” yang mendengar utuh cerita anak tanpa menghakimi. Simulasi pertama dibawakan oleh mahasiswa Samuel Marganda Tua Lumban Gaol yang mendemonstrasikan peralihan dari You statement menjadi I statement. Awalnya ia berperan sebagai anak frustrasi yang berkata “Kamu tidak pernah mengerti aku!”. Kemudian ia mengubahnya menjadi “Saya merasa kesepian ketika tidak ada waktu bersama”. Perubahan ini membuat para peserta memahami bahwa mengubah satu kata dapat mengubah seluruh dinamika konflik.

Simulasi kedua difasilitasi oleh Albert Waruwu melalui permainan “Detektif Pendengar”. Para orang tua dilatih untuk menyimak seluruh cerita anak (yang berperan sebagai saksi) tanpa menyela, menghakimi, atau memberi solusi terburu-buru. Banyak orang tua yang awalnya gagal, tetapi setelah dibimbing, mereka berhasil mendengarkan dengan sabar. Suasana haru terjadi ketika seorang ibu meminta maaf secara simbolis kepada anaknya karena selama ini sering memotong pembicaraan. Acara dipandu oleh Salomo Lumban Gaol sebagai MC, sementara  Rimurti Yunensi Harefa bertugas sebagai tim kreatif dokumentasi. Para jemaat mengaku mendapatkan pencerahan baru tentang pentingnya mendengarkan anak dan menggunakan kalimat “Saya” dibanding “Kamu”. Hotpascaman berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut di berbagai komunitas lain sebagai wujud nyata penerapan ilmu psikologi di tengah masyarakat.

2 (Medium)
4 (Medium)
8 (Medium)
9 (Medium)
6 (Medium)
7 (Medium)
3 (Medium)
5 (Medium)
2 (Medium) 4 (Medium) 8 (Medium) 9 (Medium) 6 (Medium) 7 (Medium) 3 (Medium) 5 (Medium)