Ketahanan Pangan Harus Melalui Pendekatan Multisektoral

Dr. Ir. Erika Pardede, MappSc berpose di acara Workshop Management of Water Supply, Sanitation and Hygiene linked with Nutrient Security for Sustainable Development (WASH-NUT) yang diorganisir oleh  Universität Siegen – Jerman dan Universitas Justus-Liebig Giessen – Jerman di Nepal

Pada intinya, ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa ketahanan gizi. Ketahanan gizi tak akan tercapai tanpa ketersediaan sekaligus keterjangkauan air minum yang bersih dan aman, yang diikuti oleh kondisi dan praktek sanitasi dan higiene yang baik, hal itu ditegaskan oleh pakar ketahanan pangan Universitas HKBP Nommensen Dr. Ir. Erika Pardede, MAppSc saat mengikuti sebuah acara workshop dengan topik “Management of Water Supply, Sanitation and Hygiene linked with Nutrient Security for Sustainable Development (WASH-NUT)”.  Workshop ini diorganisir oleh  Universität Siegen – Jerman dan Universitas Justus-Liebig Giessen - Jerman, Center for International Development and International Research (ZEU) - Siegen, University of Tribhuvan – Nepal, dan telah berlangsung dari tanggal 3 sampai 14 September di Pokhara – Nepal. Workshop berlangsung dengan dukungan penuh DAAD (Deutscher Academischer Austauschdients – German Academic Exchange Service). Hal ini dilaporkan oleh Dr. Erika Pardede kepada Humas UHN Medan Jonson Rajagukguk, S. Sos, SE, M.AP, Rabu, (20/09/2018).

Dr. Ir. Erika Pardede, MAppSc yang lulusan S2 Australia dan S3 lulusan Jerman ini menegaskan lagi dalam acara ini bahwa  pencapaian ketahanan gizi dan ketahanan pangan harus melalui pendekatan multi sektoral yakni sektor-sektor terkait pertanian, kesehatan, pendidikan, lingkungan serta perairan.  Berkaitan dengan topik ini, Dr. Erika Pardede seperti dilaporkan oleh Humas UHN juga sudah pernah menuliskan artikel opini di harian Analisa (29/08/2018) ini dengan judul “WASH dan Ketahanan Pangan”. WASH merupakan suatu istilah yang disingkat dari kata “Water, Sanitation and Hygiene”. Istilah yang merujuk pada segala aktifitas yang bertujuan untuk perbaikan akses ke air bersih, penggunaan air minum yang aman dan bersih, sanitasi dan praktek higiene yang baik, tegas Dr. Erika Pardede, dosen Fakultas Pertanian, Universitas HKBP Nommensen yang sering mengikuti seminar internasional ini.

Sebagai akademisi yang punya kompetensi ketahanan pangan, Dr. Erika Pardede menyoroti teknik penetapan status ketahanan pangan yang tidak melibatkan status ketersediaan air dan praktek higiene dan sanitasi rumah tangga sebagai suatu indikator. Bahkan menurut Dr. Erika, ketersediaan dan keterjangkauan air dalam skala rumah tangga haruslah menjadi suatu prasyarat untuk mendapatkan status tahan pangan.

Bahkan Dr. Erika saya sangat memprihatinkan kondisi “air, higiene dan sanitasi” di daerah Sumatera Utara. Bahkan di daerah-daerah yang berada di kawasan Danau Toba, dimana sumber air melimpah ruah, ketersediaan air minum yang aman dan bersih masih mengalami kendala. Air Danau Toba semakin terpolusi oleh berbagai kegiatan masyarakat termasuk kegiatan perikanan dengan kerambah yang melebihi daya dukung, serta pembuangan limbah rumah tangga, hotel, restoran, industri ke badan air danau tanpa terlebih melalui proses penanganan. Untuk itu program penanganan sumber air minum, higiene dan sanitasi harus menjadi fokus pemerintahan daerah untuk mencapai ketahanan pangan. Program-program tersebut juga akan mendukung program pengembangan daerah kawasan Danau Toba sebagai tujuan wisata internasional.

Workshop yang diikuti oleh dua puluh lima orang peserta dari yang terpilih dari ratusan pelamar yang berasal dari negara Asia, difasilitasi oleh German Alumni Water Network (GAWN) dengan supervisi dari tiga orang ahli dari perguruan tinggi di Jerman yakni Dr. Ruger Winegge dari  Universitas Siegen, Dr. Tina Koch dari Universitas Justus-Liebig Giessen serta Prof. Johannes Fristch dari Hochschule Ravensburg Weingarten. Workshop menghasilkan rekomendasi berbentuk program intervensi yang penting dilakukan di provinsi Pokhara.

Rekomendasi yang dibuat berdasarkan hasil survey lapang di daerah Leknath di Pokhara itu menyangkut program intervensi terkait pengaruh pemanasan global, penyediaan air, distribusi air, serta program perubahan perilaku serta penguatan institusi untuk mencapai ketahanan gizi. Rekomendasi ini untuk menguatkan sekaligus membuat skala prioritas pemerintahan daerah untuk pencapaian tujuan Agenda Nasional Nepal (2018-2022) melalui pendekatan multi-sektoral untuk ketahanan gizi. Rekomendasi tersebut diserahkan kepada kepala daerah Pokhara – Nepal dan Direktur dari Leknath Small Town Water Supply and Sanitaton Project di acara penutupan workshop di Pokhara, tegas Dr. Erika Pardede lagi.

 

.